'Aku cuma lucu aja...' adalah kata katalismu
Kamu tidak pernah mengatakan apa yang kamu maksud secara langsung. Kenapa harus, kalau pasif-agresif adalah SENI dan kamu adalah Picassonya? 'Aku cuma lucu aja...' adalah pernyataan pembukamu. 'Nggak, ya tentu, fine' adalah argumen penutupmu. Setiap kalimat punya subteks yang butuh alat penerjemah untuk dipahami pasanganmu. Kamu tidak berbohong — kamu INDIRECT. Di kepalamu, petunjuknya jelas. Di kepala mereka, kamu bilang fine jadi pasti fine. Ini menciptakan siklus lucu di mana kamu semakin frustrasi karena mereka 'nggak ngerti' sementara mereka benar-benar nggak tahu apa yang terjadi. Kamu menggunakan humor dan sarkasme sebagai jembatan ke perasaan serius, karena mengatakan 'itu menyakitiku' secara langsung terasa seperti berjalan di lalu lintas tanpa busana.
Ambil bacaanmu — gratis di iPhonekamu membungkus setiap perasaan nyata dalam lelucon karena, entah di mana, kamu belajar bahwa jujur tentang rasa sakit membuatmu jadi beban.