Begitu banyak kemungkinan diri yang belum kamu pilih satu.
Kamu bisa menjadi hampir apa saja, dan itu adalah anugerah sekaligus hambatan. Kamu menjaga pilihan tetap dekat, identitasmu sedikit lunak, karena memilih satu bentuk berarti meratapi yang lainnya. Sang Mata melihat lingkarannya: kamu menyebutnya pikiran terbuka, tapi sebagian dari itu adalah ketakutan bahwa memilih yang salah lebih buruk daripada tidak memilih sama sekali. Kamu tidak tersesat. Kamu adalah ruangan penuh pintu, tangan melayang di atas gagangnya.
Ambil bacaanmu — gratis di iPhonePintu mana yang terus hampir kamu buka.